Highschool

Highschool

Minggu, 05 Januari 2014

Keterkaitan Model Pembelajaran Problem-Based Instruction dengan Kemampuan Kreativitas Matematis








 Keterkaitan Model Pembelajaran Problem-Based Instruction dengan Kemampuan Kreativitas Matematis 
2.1  Kemampuan Kreativitas Matematis
       Kreativitas merupakan salah satu karakter yang dimiliki oleh setiap manusia. Kreativitas tidak hanya dibutuhkan dalam keseharian seseorang namun juga dalam belajar. Dalam belajar matematika perlu diberikan kepada semua perserta didik mulai dari dini untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerja sama, khususnya, kreativitas dibutuhkan dalam proses memecahkan masalah. Perlu diketahui bahwa untuk menemukan solusi dari suatu masalah diperlukan kombinasi berpikir antara kemampuan berpikir analitis dengan kemampuan berpikir kreatif. Secara tidak langsung kreativitas dapat membantu seorang siswa untuk menyelesaikan sebuah masalah matematika bahkan dengan cara yang berbeda.
       Munandar (1999) mengatakan bahwa berpikir kreatif (juga disebut berpikir divergen) ialah memberikan macam-macam kemungkinan jawaban berdasarkan informasi yang diberikan dengan penekanan pada keragaman jumlah dan kesesuain. Puccio dan Mudock (Costa, ed., 2001), bahwa dalam berpikir kreatif memuat aspek ketrampilan kognitif dan metakognitif antara lain mengidentifikasi masalah, menyusun pertanyaan, mengidentifikasi data yang relevan dan tidak relevan, produktif, mengahasilkan banyak ide, ide  yang berbeda dan produk atau ide yang baru dan memuat disposisi yaitu bersikap terbuka, berani mengambil posisi, bertindak cepat, bersikap atau berpandangan bahwa sesuatu adalah bagian dari keseluruhan yang kompleks, memanfaatkan cara berpikir orang lain yang kritis, dan sikap sensitif terhadap perasaan orang lain. 


       Munandar (Mulyana & Sabandar, 2005) mengatakan bahwa ciri-ciri kemampuan yang berpikir kreatif yang berhungan dengan kognisi dapat dilihat dari kemampuan berpikir lancar, ketrampilan berpikir luwes, ketrampilam berpikir orisinal, ketrampilan elaborasi, dan ketrampilan menilai. Lebih rincinya perhatikan tabel berikut. 
Tabel 2.1.1 Ciri-ciri Kemampuan Kreativitas
Keterampilan Kemampuan Kreativitas
Ciri – Ciri
1.      Keterampilan berfikir lancar
1.          Mencetuskan banyak gagasan dalam pemecahan masalah.
2.          Memberikan banyak jawaban dalam menjawab suatu pertanyaan .
3.          Memberikan banyak cara atau saran untuk melakukan berbagai hal.
4.          Bekerja lebih cepat dan melakukan lebih banyak daripada anak-anak lain.
2.      Keterampilan berfikir luwes
1.      Menghasilkan gagasan penyelesaian masalah atau jawaban suatu pertanyaan  bervariasi.
2.      Dapat melihat suatu msalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
3.      Menyajikan suatu konsep dengan cara yang berbeda-beda.
3.      Keterampilan berfikir orisinil
1.        Memberikan gagasan yang baru dalam menyelesaikan masalah atau jawaban yang lain dari yang sudah biasa dalam menjawab suatu pertanyaan.
2.        Membuat kombinasi-kombinasi yang tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-unsur.
4.      Keterampilan memperinci (mengelaborasi)
1.        Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.
2.        Menambah atau memperinci suatu gagasan sehingga meningkatkan kualitas gagasan tersebut.
5.      Keterampilan mengevaluasi
1.        Dapat menentukan kebenaran suatu kebenaran pertanyaan atau kebenaran suatu rencana penyelesaian masalah.
2.        Dapat mencetuskan gagasan-gagasan penyelesaian suatu masalah dan dapat melaksanakannya dengan benar.
3.        Mempunyai alasan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mencapai suatu keputusan.

       Haylock (Hartono, 2009) bahwa kemampuan berpikir kreatif matematik dapat menggunakan dua pendekatan. Pendekatan pertama adalah dengan memperhatikan jawaban siswa dalam memecahkan masalah yang proses kognitifnya dianggap sebagai proses berpikir kreatif. Pendekatan kedua adalah menentukan kriteria bagi sebuah produk yang diindikasikan sebagai hasil dari berpikir kreatif atau produk-produk divergen. Selanjutnya Haylock (Hartono, 2009) mencatat bahwa banyak usaha untuk menggambarkan kreatif matematik. Pertama memperhatikan kemampuan untuk melihat hubungan baru antara teknik-teknik dan bidang-bidang dari aplikasi dan untuk membuat asosiasi-asosiasi antara yang tidak berkaitan dengan idea. Tall (1991: 46) mengatakan bahwa berpikir kreatif matematik adalah kemampuan untuk memecahkan masalah dan/ atau perkembangan berpikir pada struktur-struktur dengan memperhatikan aturan penalaran deduktif, dan hubungan dari konep-konsep dihasilkan untuk mengintegrasikan pokok penting dalam matematika.
       Dari beberapa pengertian yang dikemukakan para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa berpikir kreatif matematik sebagai kemampuan menemukan dan menyelesaikan masalah matematika yang meliputi komponen-komponen: kelancaran, fleksibilitas, elaborasi dan keaslian. Penilaian terhadap kemampuan kreatif siswa dalam matematika penting untuk dilakukan. Oleh karena itu, untuk mengembangkan ketrampilan berpikir kreatif matematik siswa, guru perlu memberikan beberapa strategi yang tepat kepada siswanya sehingga dapat menumbuhkembangkan kemampuan berpikir kreatif matematik siswa.

2.2  Model Pembelajaran Problem-Based Instruction
       Model pembelajaran Problem based instruction menggunakan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah kehidupan nyata. Barbara J. Duch, (2011 : 39) menjelaskan bahwa “Problem-based learning model of instruction is based constructivist understanding that accommodate student involvement in learning and solving authentic problems. In obtaining information and developing an understanding of these topics, students learn how to construct the framework of the problem, organize and investigate problems, collect and analyze data, compile facts, construct an argument about problem solving, working individually or in collaborative problem solving.In other words, this learning model raised an actual problem as a challenging and exciting learning. Learners are expected to learn to solve the problem fairly and objectively” yang artinya Problem-based instruction adalah model pembelajaran yang berlandaskan paham konstruktivistik yang mengakomodasi keterlibatan siswa dalam belajar dan pemecahan masalah otentik. Arends (Trianto 2007 : 68) menjelaskan bahwa Problem based instruction merupakan pendekatan belajar yang menggunakan permasalahan autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan siswa, mengembangkan inkuiri dan keterampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. Problem based instruction merupakan salah satu dari berbagai model pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam mengaktifkan siswa dalam belajar (Abbas dkk 2007: 8).
       Problem based instruction berpusat pada siswa. Peranan guru sebagai pembimbing dan negosiator. Peran-peran tersebut dapat ditampilkan secara lisan selama proses pendefinisian dan pengklarifikasian masalah. Dalam pemerolehan informasi dan pengembangan pemahaman tentang topik-topik, siswa belajar bagaimana mengkonstruksi kerangka masalah, mengorganisasikan dan menginvestigasi masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, menyusun fakta, mengkonstruksi argumentasi mengenai pemecahan masalah, bekerja secara individual atau kolaborasi dalam pemecahan masalah. 
       Problem based instruction mengacu pada inkuiri, kontruktivisme dan menekankan pada berpikir tingkat tinggi. Model ini efektif untuk mengajarkan proses – proses berpikir tingkat tinggi, membantu siswa membangun sendiri pengetahuannya dan membantu siswa memproses informasi yang telah dimiliki. Problem based instruction menggunakan masalah dunia nyata sebagai konteks untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah. Lingkungan belajar yang terbuka menuntut peran aktif siswa untuk melakukan penyelidikan terhadap masalah sehingga menjadi pembelajar yang mandiri.
       Arends dalam Trianto (2007: 69-70) menyatakan bahwa pengembangan Problem based instruction memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.         Pengajuan pertanyaan atau masalah
Problem based instruction menggunakan masalah yang berpangkal kehidupan nyata siswa dilingkungannya. Masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa sehingga tidak menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya menyulitkan penyelesaian siswa, selain itu masalah yang disusun mencakup materi pelajaran disesuaikan dengan waktu, ruang dan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
2.         Adanya keterkaitan atar disiplin ilmu aaaaaaaaaaaaaa
Apabila Problem based instruction diterapkan pada pembelajaran mata pelajaran tertentu, hendaknya memilih masalah yang autentik sehingga dalam pemecahan setiap masalah siswa melibatkan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan masalah tersebut.
3.         Penyelidikan Autentik aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Problem based instruction mewajibkan siswa melakukan penyelidikan autentik menganalisis dan merumuskan masalah, mengansumsi, mengumpulkan dan menganalisis data, bila perlu melakukan eksperimen, dan menyimpulkan hasil pemecahan masalah.
4.         Menghasilkan dan memamerkan hasil suatu karya aaaaaaaaaaaa
Problem based instruction menuntut siswa menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang ditemukan. Siswa menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang ditemukan. Siswa menjelaskan bentuk penyelesaian masalah dan menyusun hasil pemecahan masalah berupa laporan atau mempresentasikan hasil pemecahan masalah di depan kelas.
5.         Kolaborasiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
Problem based instruction memberikan kesempatan pada siswa untuk bekerja sama dalam kelompok kecil. Guru juga perlu memberikan minimal bantuan pada siswa, tetapi harus mengenali seberapa penting bantuan itu bagi siswa agar mereka lebih saling bergantung satu sama lain, dari pada bergantung pada guru.

      Setiap model pembelajaran berbeda dengan model pembelajaran lain. Begitu pula dengan Model Problem Based Instruction (PBI) . Model Problem Based Instruction (PBI) memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Tn, 2010) :
1.       PBI merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi PBI ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa.
2.       Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. PBI menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3.       Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif.

       Langkah-langkah Model Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) (Tn, 2010) yaitu :
1.      Pendahuluan
a.    Orientasi siswa pada masalah yaitu :
·      Guru menjelaskan rencana kegiatan dengan menjelaskan materi yang akan dipelajari pada saat itu dengan memberikan tugas untuk eksperimen, siswa mempersiapkan eksperimen.
·      Menjelaskan logistik yang dibutuhkan yaitu guru menjelaskan kegiatan observasi dan mempersiapkan alat dan bahan untuk observasi.
·      Memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya dengan menyampaikan TPK.
b.   Mengorganisasi siswa untuk belajar yaitu:
·      Membagi kelas menjadi 5 kelompok belajar yang anggotanya heterogen dan terdiri dari 8-9 siswa dengan cara menghitung peserta mulai 1 s/d 8, yang nomor 1 masuk ke kelompok 1, yang nomor 2 masuk ke kelompok 2 dan seterusnya.
·      Masing-masing kelompok menghadap satu meja.
·      Guru membagikan LKS sebagai pedoman bagi siswa untuk melaksanakan kegiatan eksperimen pada saat itu.
·      Guru menyuruh siswa mempersiapkan alat dan bahan yang sudah tersedia.
·      Guru memotivasi siswa dengan menyampaikan tujuan eksperimen.
·      Guru mengingatkan siswa tentang materi yang akan kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut dilakukan untuk merangsang pembentukkan ide, pengajuan ide dan penyusunan konsep dasar serta rasa ketertarikan siswa untuk belajar.
2.      Kegiatan inti
a.    Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok yaitu:
·      Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai.
·      Siswa melaksanakan eksperimen.
·      Siswa berdiskusi untuk menjawab pertanyaan hasil eksperimen dari LKS (lembar kerja siswa) untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
·      Siswa mengumpulkan hasil kerjanya kepada guru.
b.   Mengembangkan dan menyajikan hasil karya yaitu :
·      Siswa mempersiapkan untuk merencanakan hasil pemecahan masalah.
·      Guru membantu siswa dalam merencanakan dan mempresentasikan hasil pemecahan masalah.
·      Guru membantu mereka untuk berbagi tugas dengan temannya.
·      Salah satu kelompok mempresentasikan hasil pemecahan masalah, kelompok yang presentasi dipilih acak melalui pengundian.
c.    Mengevaluasi proses pemecahan masalah yaitu:
·      Guru menyuruh siswa untuk mengevaluasi terhadap penyelidikan mereka.
·      Siswa melakukan kegiatan mengavaluasi dengan mencocokkan hasil mereka dengan kelompok.
3.      Penutup
Guru menyimpulkan hasil evaluasi siswa dengan mencocokkan materinya.

2.3  Kesimpulan 
       Berdasarkan fakta dilapangan, sebagian besar pendekatan pembelajaran yang digunakan guru selama ini cenderung berpusat pada guru. Pembelajaran disampaikan dengan menggunakan sistem ceramah sehingga hal ini mengakibatkan sikap anak yang pasif dan membatasi kreativitas siswa terhadap pelajaran yang disampaikan.
       Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai usaha peningkatan aktifitas dan kreativitas siswa adalah  model pembelajaran Problem based instruction. Pada pembelajaran ini menekankan aktifitas siswa untuk menkonstruksi dan menemukan sendiri ide-ide matematika, membangun sendiri pengetahuannya dengan melakukan eksplorasi, berdiskusi, dan presentasi berdasarkan informasi yang telah dimiliki. Model Problem based instruction dimulai dengan guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan siswa melaksanakan eksperimen berdasarkan informasi yang diperoleh sehingga para siswa mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif mereka.
       Silver (1997) memberikan indikator untuk menilai berpikir kreatif siswa (kefasihan, fleksibilitas dan kebaruan) menggunakan pengajuan masalah dan pemecahan masalah. Hubungan tersebut dapat digambarkan dalam tabel berikut.
Tabel 3.2.1 Hubungan pemecahan dan pengajuan masalah dengan komponen kreativitas
Pemecahan Masalah
Komponen Kreativitas
Pengajuan Masalah
Siswa menyelesaikan masalah dengan bermacam-macam interpretasi, metode penyelesaian atau jawaban masalah
Kefasihan

Siswa membuat banyak masalah yang dapat dipecahkan.
Siswa berbagi masalah yang diajukan

Siswa memecahkan masalah dalam satu cara, kemudian dengan menggunakan cara lain.
Siswa mendiskusikan berbagai metode penyelesaian
Fleksibilitas

Siswa mengajukan masalah yang cara penyelesaian berbeda-beda.
Siswa menggunakan pendekatan “what-if-not?” untuk mengajukan masalah.
Siswa memeriksa beberapa metode penyelesaian atau jawaban, kemudian membuat lainnya yang berbeda.
Kebaruan

Siswa memeriksa beberapa masalah yang diajukan, kemudian mengajukan
suatu masalah yang berbeda.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa diduga ada interaksi yang signifikan antara pendekatan pembelajaran dengan tingkat kemampuan matematika siswa terhadap peningkatan kemampuan kreativitas matematika siswa.




DAFTAR PUSTAKA

Liza, Tesa Zahria. 2011. Skripsi Penerapan Model Pembelajaran Problem-Based Intruction untuk Meningkatkan Kemampuan Kreativitas Matematika Siswa. Bandung : UPI.
Nurlimasari, Reri. 2008. Skripsi “Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Instruction untuk meningkatkan hasil belajar siswa SMA”. Bandung : UPI.
Prasetyo, Herry. 2011. Skipsi “Penerapan Model Problem Based Instruction (PBI) untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika Siswa pada Pokok Bahasan Bangun Ruang Sisi Lengkung di Kelas IX H SMP Negeri 2 Majenang. Yogyakarta : UNY.
Budi, Endah Rahayu, dkk. 2008. Contextual Teaching And Learning Matematika Sekolah Menengah Pertama Kelas VIII edisi 4. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Nuhaini, Dewi, dkk. 2008. Matematika Konsep Dan Aplikasinya untuk kelas VIII SMP dan MTs. Jakarta : Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Supinah. 2008. Penyusunan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Matematiika SD dallam Rangka Pengembangan KTSP. Yogyakarta : Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika
Yuli, Tatag Eko.      . Desain Tugas untuk Mengidentifikasi kemampuan berpikir Kreatif Siswa dalam Matematika. Surabaya[pdf]
Moma, La. 2011. kemampuan-berfikir-kreatif-matematika[Online]. Tersedia di : http://p4mriunpat.wordpress.com/2011/11/14/kemampuan-berpikir-kreatif-matematik/ (16 Desember 2012)
Suarman, Adi Situmorang. 2012. Peningkatan pemahaman konsep dan kreativitas matematika siswa melalui model pembelajaran pencapaian konsep [Online]. Tersedia di : http://modelpembelajaranpencapaiankonsepadi.blogspot.com/2012/06/peningkatan-pemahaman-konsep-dan.html (16  Desember 2012)
Iriana, Grace Marthinus. 2007. Kreativitas dalam memecahkan masalah matematika pada siswa SMA Kristen Kalam Kudus Malang [Online, berupa pdf]. Tersedia di : http://library.um.ac.id/free-contents/downloadpdf.php/pub/kreativitas-dalam-memecahkan-masalah-matematika-pada-siswa-sma-kristen-kalam-kudus-malang-kelas-x-grace-iriana-marthinus-33670-01771KI07-ABSTRAK.doc (16 Desember 2012)
Orbyt, Yusrin. 2012. Model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI)[Online]. Tersedia di : http://yusrin-orbyt.blogspot.com/2012/04/model-pembelajaran-problem-based.html  (16=Desember 2012)
Erviyanti, Yuni. 2011. Penerapan Model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI) untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa VIII G SMPN 13 MALANG[Online]. Tersedia di : http://library.um.ac.id/free-contents/index.php/pub/detail/penerapan-model-pembelajaran-problem-based-instruction-pbi-untuk-meningkatkan-motivasi-dan-prestasi-belajar-siswa-kelas-viii-g-smpn-13-malang-yuni-erviyanti-49095.html (16 Desember 2012)
M-edukasi. 2012. Model pembelajaran Problem-Based Instruction[Online]. Tersedia di : http://www.m-edukasi.web.id/2012/05/model-pembelajaran-problem-based.html (16=Desember 2012)  
Iendah. 2010. Model pembelajaran PBI (Problem Based Instruction)[Online]. Tersedia di : http://iendah09.wordpress.com/2010/01/17/model-pembelajaran-pbi-problem-based-instruction/ (16 desember 2012)  
Eva. 2011. Model pembelajaran Problem Based Instruction (PBI)[Online]. Tersedia di : http://rumahdesakoe.blogspot.com/2011/05/model-pembelajaran-problem-based.html (16 desember 2012)


Tidak ada komentar: